Profil

Jumat, 10 November 2017

DAUN SIRSAK SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI
Oleh : Susilowati PPL Kab. Sukabumi Jabar
Pendahuluan
Penggunaan bahan tumbuhan sebagai sumber sarana pengendali hama bukanlah merupakan hal baru.  Berdasarkan catatan tertulis yang ada, para petani pada zaman romawi kuno telah menggunakan bahan tumbuhan, seperti minyak zaitun (Olea Sp), cairan perasan daun tembakau (Nicotiana Tabacum) telah digunakan sebagai insektisida sejak tahun 1960, bunga piretrum (Chrysanthemum cinerariafolium), akar tuba (Derris elliptica) yang banyak digunakan di Malaya.
Pestisida nabati berasal dari sumber – sumber tanaman dan bukan merupakan insektida sintetik atau buatan manusia (Splittsctaesser, 1970).  Pestisida nabati ini merupakan produk alam yang mempunyai produk metabolit sekunder.  Senyawa bioaktif  itu apabila diaplikasikan ke tanaman akan memberikan pengaruh pada organisme pengganggu tanaman.  Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah Daun Sirsak.
1.      Daun sirsak
a.    Morfologi
Daun berbau agak keras, rasa agak kelat, merupakan daun tunggal, berwarna kehijauan sampai hijau kecokelatan dan helaian daun sperti kulit.  Bentuknya bundarpanjang, lanset atu bulat telur terbalik dengan permukaan licin agak mengkilat.  Tulang daun menyirip dengan ibu tuylang daun menonjol pada permukaan bawah (departemen Kesehatan RI, 1989)
b.  Kandungan senyawa
Tumbuhan dari famili ini mengandung senyawa-senyawa bioaktif yang mempunyai aktifitas sebagai anti tumor, anti mikroba, anti malaria dan pestisida (Djoko Prijono dan Hermanu Triwidodo, 1993).  Daun, kulit kayu dan akar Annona muricata telah diteliti kandungan alkaloidnya, terdiri dari retikulin (alkaloid utama), koklaurin, koreksimin, anomurin, astrosperminin dan anomurisin (Labouf et al, 1981 dalam Ani Anggraeni, 1990).
Berdasarkan penelitian terakhir, diketahui senyawa bioaktif yang memiliki efek sebagai insektisida dan anti makan dari famili Annoceae adalah asetoginin tetrahydrofuronoid.  Asetoginin baru yang diberi nama asimin telah dapat diisolasi sebagai senyawa yang bermanfaat dan telah dipetenkan (Mikolajczak et al, 1988).  Murikatasin merupakan senyawa asetogenin terakhir yang dilaporkan.
Menurut dirokterat jendral Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan (1994) Famili Annonaceae mengandung alkaloid, karbohidrat, lemak asam amino, protein, poliferol, minyak atsiri, terpen dan senyawa-senyawa aromatik seperti tumbuhan apada umumnya.  Senyawa-senyawa yang bersifat bioaktif dari kelompok tumbuhan Annonaceae dikenal dengan nama acetogenin .  Tanaman sirsak telah berhassil di isiolasi beberapa senyawa acetogenin antara lain asimin, bulatacin dan squamosin.
Menurut Roekmiati K. Tjokronegoro (1987) melalui isolasi dengan cara ekstraksi , sedikitnya ada dua isolat akhir dari daun Annona muricata Linn, satu isolat (AML-1) didapat sebagai zat murni dari nalisis spektrometri massa (MS) dan
spektrometri masa resolusi tinggi (High Resolution Mas Spetromtry) menunjukkan bahwa rumus molekulnya adalah C35H64O4.  Analisis lain hanya memberikan petunjuk bahwa senyawa itu mengandung suatu rantai alifitik panjang dengan dua gugus efaksi dan satu gugus karboksilat atau ester.  Struktur yang jelas belum dapat ditentukan tetapi dari penelusuran pustaka dapat diambil kesimpulan sementara bahwa senyawa ini merupakan suatu senyawa kimia baru.  Penelusuran berdasarkan keaktifan insektisidal juga menyimpulkan bahwa senyawa ini adalah suatu insektisidal baru.  Pada saat ini penemuan baru ini sedang dalam proess dipetenkan di jepang.
Pada konsentrasi tinggi , senyawa-senyawa acetogenin dari tanaman sirsak akan bersifat anti fedant(anti makan) bagi serangga, sehingga menyebabkan serangga tidak mau makan.  Pada konsentrasi rendah bersifat sebagai racun perut dan dapat menyebabkan kematian.  Senyawa-senywaa acetogenin ini bersifat toksik yang menyaebabkan kematian sel.  Bullatecin misalnya diketahui menghambat kerja enzim NaDH-ubiquinore (Direktorat Jendral Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan, 1994).
Cara Pembuatan insektisida nabati :

  1. Masing-masing bahan ditimbang sebanyak 30 g
  2. Kemudian dicuci sampai bersih setelah itu diangin-anginkan
  3. Masing-masing bahan dipotong-potong dan diblender atau ditumbuk, kemudian air sedikit demi sedikit dituangkan sampai 1000 ml
  4. Diamkan selama 24 jam
  5. Bahan-bahan yang telah didiamkan selama 24 jam disaring dengan kain
  6. Sebelum dipergunakan diberikan deterjen 5 ml

Tidak ada komentar:

Posting Komentar